Poliomyelitis

Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum), berasal dari bahasa latin yang berarti medulla spinalis. Penyakit ini disebabkan oleh virus polion.yelitis, pada medula spinalis yang secara klasik menimbulkan kelumpuhan. Pada tahun 1789 Underwood yang berasal dari Inggris pertama kali menulis tentang kelumpuhan anggota badan bagian bawah (ekstremitis inferior) pada anak, yang kemudian dikenal-sebagai poliomielitis. Pada permulaan abad ke 19 dilaporkan terjadi wabah di Eropa dan beberapa tahun kemudian terjadi di Amerika Serikat. Pada saat itu banyak terjadi wabah penyakit pada musim panas dan gugur. Pada tahun 1952 penyakit polio mencapai puncaknya dan dilaporkan terdapat lebih dari 21.000 kasus polio paralitik. Angka kejadian kasus polio secara drastis menurun setelah pemberian vaksin yang sangat efektif. Di Amerika Serikat kasus terakhir virus polio liar ditemukan pada tahun 1979.

Di Indonesia imunisasi polio sebagai program memakai oral polio vaccine (OPV) dilaksanakan sejak tahun 1980 dan tahun 1990 telah mencapai UCI. Dalam usaha eradikasi polio mencapai kemajuan sangat bermakna semenjak dilakukannya Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tiga tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 1995, 1996, dan 1997. Pada hari PIN tersebut dapat diimunisasi sebanyak 22 juta anak balita di seluruh Indonesia. Setelah PIN, kasus polio menurun drastis, laporan terakhir menunjukkan bahwa dari pemeriksaan laboratorium hanya ditemukan 7 kasus dengan virus polio liar ( tipe 1,2, dan 3) pada tahun 1995, dan sejak itu tak pernah lagi ditemukan virus polio liar.

Etiologi

Virus polio termasuk dalam kelompok (sub-group) entero virus, famili Picornaviridae. Dikenal 3 macam serotipe virus polio yaitu P1, P2 dan P3. Virus polio ini menjadi tidak aktif apabila terkena panas, formaldehid, klorin dan sinar ultraviolet.

Epidemiologi

Infeksi virus polio terjadi di seluruh dunia, untuk Amerika Serikat transmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun 1979. Di Negara-negara Barat, eliminasi polio sejak tahun 1991.

Program eradikasi polio global secara dramatis mengurangi transmisi virus polio liar di seluruh dunia, kecuali beberapa negara yang sampai saat ini masih ada transmisi virus polio liar yaitu di India, Timur Tengah dan Afrika. Resevoir virus polio liar hanya pada manusia, yang sering ditularkan oleh pasien infeksi polio yang tanpa gejala. Namun tidak ada pembawa kuman dengan status karier asimtomatis kecuali pada orang yang menderita defisien sistem imun.

Virus polio menyebar dari orang satu ke orang lain melalui jalur oro-fecal, pada beberapa kasus dapat berlangsung secara oral-oral. Infeksi virus mencapai puncak pada musim panas, sedangkan pada daerah tropis ticlak ada bentuk musiman penyebaran infeksi. Virus polio sangat menular, pada kontak antar rumah tangga (yang belum diimunisasi) derajat serokonversinya lebih dari 90%. Kasus-kasus polio sangat infeksius dari 7 sampai 10 hari sebelum dan setelah timbulnya gejala, tetapi virus polio dapat ditemukan dalam tinja dari 3 sampai 6 minggu.

Patogenesis

Virus polio masuk melalui mulut dan multiplikasi pertama kali terjadi pada tempat implantasi dalam farings dan traktus gastrointestinal. Virus tersebut umumnya ditemukan di daerah tenggorok dan tinja sebelum timbulnya gejala. Satu minggu setelah timbulnya penyakit, virus terdapat dalam jurnlah kecil di tenggorok, tetapi virus menerus dikeluarkan bersama tinja dalam beberapa minggu. Virus menembus jaringan limfoid setempat, masuk ke dalam pembuluh darah kemudian masuk sistem saraf pusat. Replikasi virus polio dalam neuron motor kornu anterior medula spinalis dan batang otak mengakibatkan kerusakan sel dan menyebabkan manifestasi poliornielitis yang spesifik.

Gambaran Klinis

Masa inkubasi poliomielitis umumnya berlangsung 6-20 hari dengan kisaran 3-35 hari. Respons terhadap infeksi virus polio sangat bervariasi dan tingkatannya tergantung pada bentuk manifestasi klinisnya. Sekitar 95% dari sernua infeksi polio termasuk subklinis tanpa gejala atau asimtomatis. Menurut estimasi rasio penyakit yang tanpa gejala terhadap penyakit yang paralitilk bervariasi dari 50 : 1 sampai 1000 : 1 (rata-rata 200 : 1). Pasien yang terkena infeksi tanpa gejala mengeluarkan virus bersama tinja dan dapat menularkan virus ke orang lain. Sekitar 4% – 8% dari infeksi polio terdiri atas penyakit ringan yang non spesifik tanpa bukti klinis atau laboratorium dari invasi dalam sistern saraf pusat. Sindrom ini dikenal sebagai poliomielitis abortif dengan ciri khas penyembuhan sempurna dan berlangsung kurang dari seminggu.

Meningitis aseptis non paralitik.

Kejadian ini terjadi pada 1-2 % dari infeksi polio, yang didahului oleh gejala prodomal penyakit ringan yang berlangsung beberapa hari. Anak iritabel, peka saraf meningkat, ada gejala kaku kuduk, kaku punggung dan kaki yang berlangsung antara 2-10 hari yang akan sembuh sempurna.

Paralisis flasid atau lumpuh layuh

Lumpuh layuh terjadi pada kurang dari 2% semua infeksi polio. Gejala kelayuhan umumnya mulai 1-10 hari setelah gejala prodromal dan berlangsung 2 – 3 hari. Pada umumnya tidak terjadi paralisis berikutnya setelah suhu kembali normal. Pada fase prodromal dapat terjadi bifasik terutama pada anak-anak dengan permulaan gejala ringan dipisahkan oleh periode 1-7 hari dari gejala utama (major symptoms). Gejala prodromal termasuk hilangnya refleks superfisial, permulaan meningkatnya refieks tendon dalam (deep tendon), rasa nyeri otot dan spasme pada anggota tubuh dan punggung. Penyakit berlanjut dengan paralisis flasid disertai hilangnya refleks tendon dalam, keadaan ini menetap sampai beberapa minggu dan umumnya asimetris. Setelah fase ini lewat, kekuatan kembali, tidak ada gejala kehilangan sensoris atau perubahan kesadaran. Banyak anak dengan poliomyelitis paralitik dapat sembuh dan sebagian besar fungsi otak kembali pada tingkat tertentu. Pasien dengan kelayuhan 12 bulan setelah timbulnya penyakit pertama kali akan menderita dengan gejala sisa yang permanen.

Poliomielitis paralitik dibagi menjadi tiga kelompok,

  1. Polio spinal, yang paling sering terjadi (79%) dari kasus paralitik yang tercatat dari tahun 1969-1979 di   Amerika Serikat. Terjadi paralisis asimetris yang sering pada tungkai bawah.
  2. Polio bulbar, tercatat sekitar 2% dari semua kasus paralitik mengakibatkan kelumpuhan otot-otot yang   dilayani oleh saraf kranial.
  3. Polio bulbospinal, tercatat 19% dari kasus paralitik dan merupakan kombinasi antara paralisis bulbar dan spinal.

Diagnosis Laboratorium

  1. Virus polio dapat diambil dari daerah faring atau tinja pada orang yang dicurigai terkena poliomyelitis. Isolasi virus dari cairan serebrospinal sangat diagnostik, tetapi hal itu jarang dikerjakan.
  2. Bila virus polio dapat disolasi dari seorang dengan paralisis flasid akut harus dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan cara oligonucleotide mapping (finger printing) atau genomic sequencing. Untuk menentukan apakah virus tersebut termasuk virus liar atau virus vaksin.
  3. Dengan cara serologis yaitu mengukur zat anti yang menetralisasi (neutralizing antibody) yang muncul awal dan mungkin ditemukan meningkat tinggi pada saat penderita masuk rumah sakit oleh karena itu dapat terjadi kenaikan 4 kali yang tidak diketahui.
  4. Pemeriksaan cairan serebrospinal pada infeksi virus polio, umumnya terjadi kenaikan jumlah sel leukosit (10-200 sel/mm3, yang sebagian besar limfosit) dan terjadi kenaikan kadar protein ringan dari 40 sampai 50 mg/100ml.

Vaksin

Vaksin Virus Polio Oral (oral polio vaccine = OPV)

Vaksin virus polio hidup oral yang dibuat oleh PT. Biofarma Bandung, berisi virus polio tipe 1,2, dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan(attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Tiap dosis (2 tetes = 0,1 ml) mengandung virus tipe 1 : 106.0 CCID50, tipe 2 : 105.0 CCID5o dan tipe 3 : 105,5 CCID5o dan eritromisin tidak lebih dari 2 mcg, serta kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.

Vaksin ini digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral.
Virus vaksin ini kemudian menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun pada epitelium usus, yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian. Dengan cara ini, maka frekuensi eksresi polio virus liar dalam masyarakat dapat dikurangi.

Vaksin akan menghambat infeksi virus polio liar yang serentak, maka sangat berbahaya untuk mengendalikan epidemi. Jenis vaksin virus polio ini dapat bertahan (beredar) di tinja sampai 6 minggu setelah pemberian OPV.

Penerima vaksin dapat terlindungi setelah dosis tunggal pertama namun tiga dosis berikutnya akan memberikan imunitas jangka lama terhadap 3 tipe virus polio.

Vaksin polio oral harus disimpan tertutup pada suhu 2-80C.

Vaksin sangat stabil namun sekali dibuka, vaksin akan kehilangan potensi disebabkan oleh perubahan pH setelah terpapar udara. Kebijakan Departeman Kesehatan menganjurkan bahwa vaksin polio yang telah terbuka botolnya pada akhir sesi imunisasi (pada imunisasi masal) harus dibuang. Tetapi saat ini kebijakan WHO membolehkan botol-botol yang berisi vaksin dosis ganda (multidose) digunakan pada sel-sei imunisasi, bila tiga syarat di bawah ini terpenuhi :

  1. tanggal kadaluwarsa tidak terlampaui
  2. vaksin-vaksin disimpan dalam rantai dingin yang benar (2-80C)
  3. botol vaksin yang telah terbuka yang terpakai hari itu telah dibuang oleh Puskesmas.

Vaksin polio oral (OPV) dapat disimpan beku pada temperatur 20C. Vaksin yang beku dengan cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara dua telapak tangan dan digulir-gulirkan, dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai oranye muda (sebagai indikator pH).

Bila keadaan tersebut dapat terpenuhi, maka sisa vaksin yang telah terpakai dapat dibekukan lagi, kemudian dipakai lagi sampai warna berubah dengan catatan dan tanggal kadarluwarsa harus selalu diperhatikan.

Vaksin Polio Inactivated (inactived poliomyelitis vaccine = IPV)

Vaksin polio inactivated yang dibuat oleh Aventis Pasteur berisi tipe 1, 2, 3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formaldehid. Pada vaksin tersebut dijumpai dalam jumlah kecil selain formaldehid juga ada neomisin, streptomisin dan polimiksin B.

Vaksin polio inactivated harus disimpan pada suhu 2-80C dan tidak boleh dibekukan.

Pemberian dengan dosis 0,5 ml dengan suntikan subkutan dalam tiga kali berturut-turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosal maupun humoral) terhadap tiga macam tipe virus polio.

Imunitas mukosal yang ditimbulkan oleh IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh OPV.

Rekomendasi

Imunisasi Primer Bay! dan Anak

Vaksin polio oral diberikan pada bayi baru lahir sebagai dosis awal, sesuai dengan Pengembangan Program Imunisasi (PPI) dan Program Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000. Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan yang diberikan tiga dosis terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu. Satu dosis sebanyak 2 tetes (0.1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin DPT dan Hib. Bila OPV yang diberikan dimuntahkan dalam waktu 10 menit, maka dosis tersebut perlu diulang.

Pemberian air susu ibu tidak berpengaruh pada respons antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. Anak-anak dengan imunosupresi dan kontak mereka yang dekat harus diimunisasi.

Anak yang telah mendapat imunisasi OPV dapat memberikan ekskresi virus vaksin selama 6 minggu dan akan melakukan infeksi, pada kontak yang belum diimunisasi. Untuk mereka yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru saja diberi OPV supaya menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.

Valksinasi terhadap orang tua yang anaknya divaksinasi

Anggota keluarga yang belurn pernah divaksinasi atau belum lengkap vaksinasinya dan mendapat kontak anak-anak yang mendapat vaksinasi OPV, harus ditawarkan vaksinasi dasar OPV pada waktu yang bersamaan dengan anak tersebut. Dalam hal ini tidak boleh diberikan IPV, mengingat risiko infeksi yang didapat dari anak terjadi sebelum imunisasi terbentuk sebagai respons terhadap IPV.

Kepada orang dewasa yang telah mendapat imunisasi sebelumnya, tidak diperlukan vaksinasi penguat (booster). Interval minimal antara dua dosis vaksinasi dapat diperpanjang dan dapat menyelesaikan vaksinasinya tanpa mengulang lagi.

Imunisasi penguat (booster)

Dosis penguat OPV harus diberikan sebelum masuk sekolah, yaitu bersamaan pada saat dosis DPT diberikan sebagai penguat, dosis OPV berikutnya harus diberikan pada umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah.

Imunisasi untuk orang dewasa

Untuk orang dewasa, sebagai imunisasi primer (dasar) dianjurkan diberikan 3 dosis berturut-turut 2 tetes OPV dengan jarak 4-8 minggu. Semua orang dewasa seharusnya divaksinasi terhadap Poliomyelitis dan tidak boleh ada yang tertinggal. Dosis-dosis penguat untuk orang dewasa tidak diperlukan, kecuali mereka yang dalam risiko khusus, misaInya:

– Bepergian ke daerah-daerah yang poliomyelitis masih endemis atau saat terjadi epidemi
– Petugas-petugas kesehatan yang kemungkinan mendapat kontak dengan kasus Poliomyelitis.

Bagi mereka yang secara terus-menerus mengalami risiko infeksi, dianjurkan diberikan dosis tunggal sebagai penguat 2 tetes setiap 10 tahun.

Vaksinasi untuk anak-anak imunokompromais

Untuk mereka yang vaksin hidup merupakan indikasi kontra, misalnya mereka dengan imunosupresi dari sesuatu penyakit atau kernoterapi, maka IPV dapat digunakan sebagai vaksinasi terhadap Poliomyelitis. Hal ini juga dipakai untuk saudara-saudara anak imunokompromais dan anggota keluarga yang mendapat kontak. Sebagai vaksinasi dasar, diberikan suntikan IPV sebanyak 3 dosis masing-masing 0.5 ml, secara subkutan dalam atau intramuskular dengan interval 2 bulan. Dosis penguat harus diberikan yang jadwalnya sama dengan pemberian OPV. Anak dengan HIV-positif dan anggota keluarga serumah yang mendapat kontak harus menerima IPV.

Kejadian ikutan (efek samping)

Kasus poliomyelitis yang berkaitan dengan vaksin telah dilaporkan terjadi pada resipien atau kontak. Diperkirakan terdapat 1 kasus poliomyelitis paralitik yang berkaitan dengan vaksin terjadi setiap 2.5 juta dosis OPV yang diberikan. Risiko terjadi paling sering pada pemberian dosis pertama dibanding dengan dosis-dosis berikutnya. Risiko yang relatif kecil pada poliomyelitis yang ditimbulkan pemberian OPV ini tidak boleh diremehkan, namun tidak cukup menjadi alasan untuk mengadakan perubahan terhadap policy imunisasi , karena vaksinasi tersebut terbukti sangat berguna. Harus ditekankan bahwa kebersihan terhadap kontak penerima vaksin yang baru adalah sangat penting.

Setelah vaksinasi sebagian kecil resipien dapat mengalami gejala2 pusing, diare ringan, sakit pada otot. Seperti kejadian ikutan pada vaksinasi yang lain, sernua gejala yang timbul setelah vaksinasi harus dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat.

Indlikasi kontra

  1. Pemberian OPV adalah indikasi kontra pada hal-hal seperti berikut :
  2. penyakit akut atau demam (temp. >38.50C), vaksinasi harus ditunda;
  3. muntah atau diare, vaksinasi ditunda;
  4. sedang dalam pengobatan cortikosteroid atau imunosupresif yang diberikan oral maupun suntikan, juga yang mendapat pengobatan radiasi umum (termasuk kontak penderita);
  5. keadaan malignansi (untuk penderita dan kontak) yang berhubungan dengan sistem retikulo endotelial (seperti limfoma, leukemia, dan penyakit Hodgkin) dan yang mekanisme imunologisnya terganggu, misalnya pada hipogamaglobulinemia;
  6. infeksi HIV pada seseorang atau anggota keluarga sebagai kontak;
  7. walaupun kejadian ikutan pada foetus belum pernah dilaporkan, OPV jangan diberikan kepada orang hamil pada 4 bulan pertama kehamilan kecuali terdapat alasan mendesak, misalnya bepergian ke daerah endemis poliomyelitis;
  8. Vaksin Polio Oral dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin inactivated dan virus hidup lainnya (sesuai dengan indikasi) tetapi jangan bersama vaksin oral Tifoid;
  9. Bila BCG diberikan pada bayi, tidak perlu memperlambat pemberian OPV, karena OPV memacu imunitas lokal dan pembentukan antibodi dengan cara replikasi dalam usus;Vaksin polio oral dan lPV di dalamnya mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimiksin, streptomisin), namun hal ini tidak merupakan indikasi kontra, kecuali pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif yang berlebihan;
  10. Kepada saudara atau anggota keluarga kontak dari anak yang menderita imunosupresi jangan diberikan OPV, tetapi diberi IPV.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *