PENGERTIAN BINA MANDIRI

Bina Mandiri adalah suatu aktifitas yang membina anak-anak penderita Cerebral Palsy (CP) dan retardasi mental (RM) agar dapat melakukan segala sesuatunya dengan sendiri yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan penderita.

Kondisi dan kemampuan yang dimaksud adalah

1. Bagi Cerebral Palsy (CP)

  • Motorik yang terbatas
  • Visual / penglihatan
  • Lemah, daya tahan rendah
  • Keseimbangan tubuh kurang
  • Kelemahan pada bagian tubuh (kaki/tangan).

2. Bagi Tuna Grahita ( RM)

  • Susah memahami sesuatu
  • Pelupa

LATAR BELAKANG

Berkenaan dengan banyaknya anak-anak yang mampu latih dilingkungan YPAC Semarang, serta banyaknya anak usia sekolah yang belum dapat menolong dirinya sendiri dengan kemampuan yang terbatas, bagitu juga keluhan para orang tua mengenai kemampuan motorik putra-putrinya, maka atas dasar alasan tersebut YPAC Semarang pada 1 Mei 2001 memberikan pelayanan Program Bina Mandiri khusus bagi anak-anak CP dan RM di lingkungan YPAC Semarang. Tidak menutup kemungkinan pasien luar (belum sekolah). Hingga saat ini sudah 46 anak yang mendapat pembinaan di Bina Mandiri dengan usia 6 s/d 15 tahun.

SASARAN

  • Cerebral Palsy (CP)
  • Retardasi Mental (RM).

TUJUAN

  1. Membantu melaksanakan kegiatan sehari-hari.
  2. Membantu agar dapat mengurus dirinya sendiri.
  3. Membantu agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya.
  4. Membantu meringankan beban orang tua.

LINGKUP PELAYANAN

1 Kemandirian yang sesuai

Yang dimaksud dengan kemandirian yang sesuai adalah sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang terbatas pada penderita yang tentunya berbeda-beda termasuk berat ringannya kecacatan.

Aktifitas / kegiatan yang diberikan antara lain

a. Perawatan diri sendiri, meliputi :

  • Kebersihan badan / mandi dan toilet training.
  • Berpakaian dan bersolek baik putra / putri.
  • Bersepatu dan kaos kaki.

b. Aktifitas di meja makan, meliputi:

  • Pengenalan alat makan dan cara penggunaannya.
  • Cara menyajikan dan cara mengambil makanan dan minuman.
  • Merapikan dan membersihkan meja makan.

c. Aktifitas Rumah Tangga, meliputi:

  • Mencuci alat makan / baju dengan cara penggunaan sabun colek dan deterjen.
  • Menyetrika, penggunaan setrika, cara menyetrika, melipat baju, celana dll.
  • Memasak, penggunaan alat dapur (jika memungkinkan).
  • Membersihkan ruangan rumah, halaman, menyapu, melap kaca, mengepel lantai dll.

d. Aktifitas di kamar tidur, meliputi

  • Merapikan tempat tidur.
  • Melepas dan memasang seprei, sarung bantal dan guling.
  • Menyusun baju di almari baju.

e. Pengenalan Alat Pertukangan dan kegunaannya.

  • Palu, tang, paku, gergaji dll.

f. Penggunaan alat bantu

  • Kursi roda, walker, kruk, barce dll.

g. Kegiatan Berjalan

  • Berjalan tanpa beban dan membawa beban
  • Berjalan di berbagai medan/sarana, seperti naik turun tangga lif, Eskalator d1l.

2. Komunikasi

Hal ini penting bagi Pembimbing dan penderita. Tidak semua anak CP dan RM dapat berkomunikasi dengan baik, terkadang sulit untuk dipahami, dalam hal ini yang perlu diperhatikan dalam komunikasi adalal :

  • Terjadinya tatap muka saat berkomunikasi.
  • Memahami bahasa gerak tubuh / isyarat yang sederhana.
  • Memahami indera pendengar.
  • Tidak segan-segan untuk mengulang suatu perintah.

3. Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses penyesuaian diri terhadap adat istiadat, kebiasaan dan sikap lingkungan. Bagaimana sikap anak terhadap lingkungan dan seberapa baik ia dapat bergaul dengan masyarakat.

Tujuan Sosialiasi

  • Belajar bertingkah laku yang dapat diterima lingkungan.
  • Memainkan peranan sosial yang diterima masyarakat, misal menghadiri pesta, kerja bakti dll.

Sosialisasi yang dapat dilaksanakan bagi anak CP dan RM antara lain mengenal lingkungan sekitar, mengunjungi Mall/Supermaket/pasar tradisional, dan rekreasi.

Untuk menuju kemandirian bagi anak CP dan RM bahwa bimbingan harus dilakukan secara berulang-ulang, rutin, bebas dad segala tekanan/paksaan dan dilakukan secara santai, tidak tergesa~gesa, tidak membahayakan sehingga tidak terlalu memaksakan keterbatasannya. Selain itu sebaiknya orang tua memberikan anak melakukan sendiri apa yang mampu dilakukannya.

Berikan pertolongan bila betul-betul tidak dapat melakukan sendiri.