SEMINAR DAN PARENTING (PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)

KOMITE SLB YPAC Semarang menyelenggarakan Seminar dan Parenting ” Pendidikan Seks untuk Anak Berkebutuhan Khusus” yang diselenggarakan hari Selasa, 19 Desember 2017 di Gedung Wisma Bakti YPAC Semarang,  Sebagai Pembicara : Psikolog, Elizabeth Wahyu Margareth Indira mengatakan, pemahaman tentang seks bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) diperlukan sejak dini. Hal ini sangat diperlukan untuk mengenalkan anak tentang reproduksi dan cara menjaganya, baik dari sisi kesehatan, kebersihan, keamanan, dan keselamatan.

Menurutnya Elizabeth, cara memberikan pemahaman seks bagi anak berkebutuhan khusus adalah dengan mengatur pola komunikasi intensif dengan anak, misalnya jika anak mulai menanyakan terkait seks dalam masa transisi, sudah seharusnya orang tua menanggapi dengan tenang dan sabar.

“Ikuti perkembangannya, dan jelaskan secara perlahan sesuai pemahaman anak,” ujarnya.

Sebagai orang tua perlu mengajarkan kepada anak untuk buang air sendiri, dan memberikan pemahaman tentang organ reproduksi, misalnya organ ini tidak boleh diperlihatkan dan disentuh orang lain dan lainnya.

Sebagai orang tua juga perlu memberikan apreasi jika anak sudah mulai memahami sisi positif dan negatif akan seks. Namun, jika anak mengalami perubahan sikap psikologis dalam masa transisi, misalnya tidak mau mengungkapkan sesuatu (murung), orang tua harus melakukan komunikasi intensif untuk memecahkan masalah yang dialaminya.

“Karena berdasar penelitian, dorongan hormon seks pada anak kebutuhan khusus lebih tinggi dibanding dengan anak pada umumnya, sehingga pendampingan dini perlu dilakukan,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Komite YPAC Semarang, Nur Sholikhin menyampaikan, pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus sangat dibutuhkan mengingat ancaman-ancaman tindak kekerasan seksual di lingkungan sosial terhadap anak berkebutuhan lebih tinggi dibanding anak pada umumnya.

“ Saya menilai pendidikan seks untuk anak berkebutuhan khusus kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Peran pemerintah terhadap pelindungan anak berkebutuhan khusus juga masih rendah,” tandas Nur Sholikhin.

Dirinya juga menilai, perlindungan hukum terkait kekerasan seksual yang menimpa ABK masih minim tertangani, bahkan orang tua pun masih banyak yang menutup diri jika terjadi hal demikian.

“Melalui seminar ini, kami mencoba menggugah dan memberikan wawasan pengetahuan kepada orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus terkait pendidikan seks,” lanjut dia.

Menurutnya, pentingnya pendidikan itu bukan menyangkut seksnya saja, akan tetapi menyangkut aspek sosial dari anak kebutuhan khusus yang nanti akan menghadapi lingkungan sekitarnya.

Pada kegiatan Seminar sendiri dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, dan diikuti wali murid YPAC, tenaga pendidik, mahasiswa, ahli terapis pendidikan, serta kelompok masyarakat peduli anak berkebutuhan khusus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *